Kamis, 30 Desember 2010

Perundingan Linggarjati


03.42 |


Perundingan Linggarjati atau kadang juga disebut Perundingan Linggajati adalah suatu perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati, Jawa Barat yang menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia. Hasil perundingan ini ditandatangani di Istana Merdeka Jakarta pada 15 November 1946 dan diratifikasi kedua negara pada 25 Maret 1947.
  

Latar Sejarah
Sebelum menjadi Museum Perundingan Llinggajati bangunan ini berupa gubuk milik Ibu Jasitem (1918), kemudian pada tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi rumah semi permanen, pada tahun 1930-1935 setelah dibeli keluarga Van Ost Dome (bangsa Belanda)   dirombak menjadi rumah tinggal seperti sekarang, kemudian pada tahun 1935 -1946) dikontrak Heiker (bangsa Belanda) dijadikan Hotel yang bernama Rus "Toord".

Keadaan ini berlanjut setelah Jepang menduduki Indonesia dan diteruskan setelah kemerdekaan Indonesia. Pada zaman pendudukan Jepang, hotel tersebut berubah namanya menjadi   Hotel Hokay Ryokan. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945 hotel ini diberi nama Hotel Merdeka. Jika diperhatikan, pembagian ruangan dalam Museum Perundingan Linggajati sekarang masih menyerupai pembagian ruangan untuk bangunan hotel.


Pada tahun 1946 di gedung ini berlangsung peristiwa bersejarah yaitu Perundingan antar Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda yang menghasilkan Naskah Linggarjati sehingga gedung ini sering disebut Gedung Perundingan  Linggajati. Sejak aksi militer tentara Belanda ke-2 1948-1950 gedung dijadikan markas Belanda, kemudian pada tahun  1950 - 1975 difungsikan menjadi Sekolah Dasar Negeri Linggajati, selanjutnya pada tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tetapi usaha  ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk Sekolah Dasar Negeri Linggajati yang selanjutnya pada tahun 1976 gedung ini oleh diserahkan Kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan Museum Memorial.
Lokasi Museum
Museum Perundingan Linggajati terletak di Desa Linggajati, dan termasuk dalam Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Desa Linggajati terletak pada ketinggian 400 meter dari permukaan laut. Desa ini diapit oleh tiga desa, yaitu di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Linggamekar, di sebelah utara berbatasan dengan Desa Linggaindah dandi sebelah barat berbatasan dengan Gunung Ciremai. Desa Linggajati berjarak 35 km dari Cirebon dan 17 km dari Kuningan.


Transportasi
Untuk menuju ke museum  dapat ditempat melalui jalan darat: - Jarak dari terminal bus ke museum 22 km - Jarak dari  stasiun kereta api 25 km - Jarak dari Pelabuhan laut 25 km

Koleksi

Koleksi yang dimiliki museum ini adalah berupa naskah perundingan, foto-foto, dan meja kursi.


Jadwal Kunjung
Waktu jam kunjung museum
a. Senin --Jumat dari pukul 07.00 - 15.00
b. Sabtu - Minggu dari  pukul 08.00 - 17.00


Fasilitas
Bangunan museum berdiri diatas areal seluas 2,4 ha, dengan luas bangunan 800 m2 yang terdiri dari: ruang sidang, ruang sekretaris, kamar tidur Lord Killearn (Inggris), ruang pertemuan Presiden Soekarno dan Lord Killearn, kamar tidur delegasi Belanda, kamar tidur delegasi Indonesia, ruang makan, kamar mandi/WC, ruang setrika, gudang, bangunan paviliun, dan bangunan garasi.

B.Riwayat gedung perundingan Linggarjati
Tahun 1918
Ditempat ini berdiri Gubuk milik Ibu Jasitem
Tahun 1921
Oleh seorang Bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi semi permanen
Tahun 1930
Dibangun menjadi permanent dan menjadi rumah tinggal Van Ost Dome (Bangsa Belanda)
Tahun 1935
Dikontrak oleh Heiker (Bangsa Belanda) den dijadikan Hotel bernama RUSTOORD
Tahun 1942
Jepang menjajah bangsa Indonesia dan hotel ini diganti namanya menjadi Hotel HOKAY RYOKAN
Tahun 1945
Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI maka Hotel ini diberi nama Hotel MERDEKA
Tahun 1946
Digedung ini berlangsung Peristiwa Bersejarah yaitu perundingan antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda yang menghasilkan Naskah Linggarjati sehingga Gedung ini sering disebut GEDUNG PERUNDINGAN LINGGARJATI
Tahun 1948 – 1950
Sejak aksi militer tentara ke II, gedung ini dijadikan markas Belanda
Tahun 1950 -1975
Ditempati oleh Sekolah Dasar Negeri Linggajati
Tahun 1975
Bung HATTA dan Ibu SJAHRIR berkunjung dengan membawa pesan bahwa Gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tetapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan Sekolah untuk Sekolah Dasar Negeri Linggajati
Tahun 1976
Gedung ini oleh Pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan museum MEMORIAL.


Sebelum menjadi Museum Perundingan Linggarjati, bangunan ini hanya berupa gubuk milik Ibu Jasitem di tahun 1918. Lalu pada tahun 1921, seorang kebangsaan Belanda bernama Tersana, merombak gubuk itu menjadi rumah semi permanen.


Rumah itu kemudian dibeli keluarga Van Ost Dome, lalu merombaknya pada tahun 1930 hingga 1935, menjadi rumah tinggal seperti sekarang ini. Rumah ini pada periode 1935-1946 dikontrak Heiker (bangsa Belanda) untuk dijadikan hotel yang bernama Rus Toord.


Keadaan tersebut terus berlanjut setelah Jepang menduduki Indonesia dan diteruskan setelah kemerdekaan Indonesia. Sempat kembali dijadikan hotel dan berubah namanya menjadi Hokay Ryokan.


Setelah Indonesia mengumandangkan kemerdekaanya, bangunan tersebut kemudian diambil alih oleh pemerintah RI dan berganti namanya menjadi Hotel Merdeka. Jika Anda yang pernah kesana dan memperhatikan letak pembagian ruangan dalam museum ini, memang menyerupai pembagian ruangan untuk hotel.


Pada tahun1946 di gedung ini berlangsung peristiwa bersejarah yaitu Perundingan antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda yang melahirkan naskah Linggarjati. Dari situlah hingga kini gedung tersebut dikenal dengan Gedung Perundingan Linggarjati.


Sejak aksi militer tentara Belanda ke-2 (1948-1950) gedung ini kembali dijadikan markas Belanda, lalu dialihfungsikan menjadi Sekola Dasar Negeri Linggarjati (1950-1975). Selanjutnya di tahun 1975, Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung sekaligus menyampaikan pesan bahwa gedung tersebut akan dipugar oleh Pertamina. Tahun 1976, gedung akhirnya diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk menjadi museum.


Museum ini mengoleksi berupa naskah perundingan, foto-foto, dan meja kursi yang menggambarkan peristiwa yang berhubungan dengan perundingan Linggarjati. Hampir semua barang yang terdapat dalam museum masih asli waktu perundingan Linggarjati.


Jika biasanya Anda melihat banyak kerusakan di banyak museum dan coret-coretan dari tangan nakal para pengunjung, di museum ini Anda akan tidak pernah menyaksikannya. Pasalnya, pengurus museum dan penduduk lokal disekitarnya sangat menjaga salah satu gedung bersejarah tersebut.


Museum Perundingan Linggarjati ini terletak di desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Jam bukanya, Senin-Jumat (07.00-15.00), Sabtu-Minggu (08.00-17.00) dengan tarif masuk gratis. Anda hanya perlu membayar seikhlasnya kepada para pemandu yang siap menjelaskan lebih detail sejarah mengenai bangunan.

Situs Linggarjati merupakan bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh Undang Undang No. 5 Tahun 1992, tentang Benda Cagar Budaya, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang.


Gedung Perundingan Linggarjati terletak di Desa Linggajati, Kecamatan Cilimus, di kaki Gunung Ciremai. Jarak dari kota Kuningan kira-kira 14 km ke arah Utara dan 26 km dari Cirebon ke arah Selatan. Gedung ini dulunya hanya merupakan gubuk milik Jasitem (1918) hingga pada akhirnya oleh Pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dipugar dan dijadikan situs.


Dari arah Cirebon bertemu pertigaan yang dikenal dengan nama Gibu, melewati jalan menanjak sekitar 5 km dan cukup banyak kelokan, kami tiba di depan Situs Linggarjati. Tepatnya di Jalan Naskah. Diberi nama Naskah sesuai dengan naskah hasil perundingan Linggarjati pada masa itu.
Seperti yang sudah kita ketahui pada masa itu tanggal 10 s.d. 13 November 1946 gedung ini digunakan sebagai tempat perundingan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Belanda. Indonesia diwakili oleh PM Sutan Syahrir dengan anggota A.K. Gani, Susanto Tirtodiprojo dan Mr. Mohamad Roem. Sementara itu dari Belanda diwakili oleh Dr. Van Debour. Sebagai Penengah dari Inggris diwakili oleh Lord Killean. Hasil perundingan tersebut adalah naskah Perjanjian Linggarjati yang terdiri dari 17 Pasal yang ditandatangani di Jakarta pada tanggal 25 Maret 1947. Oleh karena itu lah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 diakui oleh dunia.


Pintu utama gedung Linggarjati tidak dibuka untuk umum. Pengunjung boleh masuk ke gedung lewat pintu di sisi kanan pintu utama di mana tersedia meja piket atau penerima tamu. Boleh juga masuk melewati pintu di sisi gedung dan pintu belakang. Secara keseluruhan luas Situs Linggarjati kira-kira 800 meter persegi dengan gedung tipikal gedung kuno dengan langit-langit yang tinggi dan luas. Terdapat 8 kamar dengan 2 tempat tidur di masing-masing kamar.


Benda-benda di dalam gedung masih terlihat utuh. Meskipun nampak tua (dan antik) namun kebersihannya terjaga. Di ruang tamu terdapat seperangkat sofa, jam bandul setinggi orang dewasa, foto-foto dan diorama Perundingan Linggarjati. Ruangan berikutnya, 5 kali lebih luas dari ruang utama, menampilkan meja-meja perundingan yang digunakan pada masa itu, lemari-lemari arsip yang nampak masih kokoh, foto-foto para Pejuang Indonesia dan sebuah piano tua yang terletak di sudut. Menurut Kepala Situs, Bapak Ruhiat Hardianto, piano tersebut masih 40% berfungsi.


Kami suka berlama-lama di Situs Linggarjati. Halamannya yang luas diteduhi pohon-pohon rindang menambah kedamaian ketika kami duduk di teras sambil ngobrol dengan pak Ruhiat tentang sejarah situs ini. Pagi itu suasananya terasa tenang, damai, Petugas yang ramah-ramah dan ada penjual Tahu Gejrotnya!
Kunjungan kami waktu itu bertepatan dengan kunjungan serombongan anak sekolah yang dipimpin oleh Guru mereka. Betapa antusiasnya anak-anak itu mendengar informasi dari Petugas. Ternyata anak-anak sekolah jaman sekarang tidak melulu larut dalam gelombang teknologi dan informasi yang bebas nian merasuki jejaring pemikiran mereka. Buktinya mereka masih mau mengunjungi Situs Linggarjati dan menikmati pesona pemandangan di sekitarnya. Mereka masih mau memerhatikan salah satu bukti perjuangan berat para Pejuang bangsa ini... bangsa kaya raya yang harus dijaga bersama. Bukan hanya nama baiknya saja yang harus dijaga, melainkan juga semua isi di dalamnya; budaya, seni, adat, dan keragaman.

BUNG SJAHRIR: SANG OBOR KEMANUSIAAN
Linggadjati was niet alleen een verhaal over landen. Het was een verhaal over mensen. Sjahrir, Schermerhorn, Lord Killearn, van Mook, visionairs, realisten...
Joty ter Kulve-van Os

Linggarjati adalah kota kecil di kaki Gunung Ciremai, sebelah selatan Cirebon. Di sini, di sebuah rumah yang sejak 1985 bernama resmi Gedung Perundingan Linggarjati pernah berlangsung perundingan antara Indonesia dan Belanda (11-12 November 1946). Perundingan ini yang kemudian melahirkan Perjanjian Linggarjati.
Gedung ini atau disebut juga Museum Linggarjati telah direnovasi. Kini berdiri tegak, anggun sebagai saksi sejarah tentang Indonesia yang mencintai kemerdekaan, dan melalui sosok Bung Sjahrir serta kegigihan diplomasinya, juga adalah Indonesia yang mencintai damai.
His idea of achieving sovereignty by peaceful means constituted a praiseworthy moral approach.
Syahrir the real/genuine diplomat
Dr.R.Z.Leirissa
Memasuki ruang tamu Museum Linggarjati, segera kita akan menyaksikan ruang perundingan. Barisan kursi di sebelah kiri ditempati pihak Indonesia, dipimpin oleh perdana menteri pertama Indonesia, Sutan Sjahrir. Inggris bertindak sebagai mediator diwakili oleh diplomat Inggris Lord Killearn (Utusan Khusus Inggris untuk Asia Tenggara, berkedudukan di Singapura). Barisan kursi sebelah kanan diduduki pihak Belanda.
Selama berlangsungnya perundingan, Museum Linggarjati juga berfungsi sebagai tempat menginap Lord Killearn dan beberapa delegasi Belanda (Schermerhorn, Ivo Samkalden, P.Sanders. Letnan Gubernur Jenderal van Mook dan anggota delegasi lainnya lagi menginap di Kapal Perang Banckert). Sedangkan delegasi Indonesia menginap di rumah Bung Sjahrir di Linggasana, desa tetangga Linggarjati, sekitar 20-25 menit jalan kaki dari Museum.
Di dinding ruang perundingan kita dapat menyaksikan foto-foto dokumentasi peristiwa di seputar perundingan Linggarjati, yang diperoleh dari Kedutaan Belanda. Diantaranya adalah foto wartawan mancanegara mengetik naskah berita di pagar tangga rumah Bung Sjahrir di Linggasana.
Salah satu foto yang berkesan bagiku adalah duduk bersama-sama Bung Sjahrir dan W.Schermerhorn (ketua delegasi Belanda) di sofa ruang tamu kediaman Bung Sjahrir (sebagai Perdana Menteri) di Jl. Pegangsaan Timur no.56, Jakarta (Yup! juga tempat Bung Karno mendeklarasikan Proklamasi Kemerdekaan. Sekarang Jalan Proklamasi), sedang memaraf Naskah Perjanjian Linggarjati dalam bahasa Belanda pada 15 November 1946 (Naskah dalam bahasa Indonesia dan Inggris diparaf pada 18 November di Istana Negara (Istana Rijswijk), Jakarta. Secara resmi Perjanjian Linggarjati ditandatangani pada 25 Maret 1947 di Istana Negara*).
Mengapa.
Sebab foto ini mengatakan satu hal: kesetaraan, satu kedudukan. Indonesia yang diwakili oleh Bung Sjahrir adalah bangsa dengan kedudukan yang sederajat dengan Belanda dan utuh memiliki kehormatannya. Berdiplomasi untuk memenangkan kemerdekaan tetapi adalah Indonesia yang tak tunduk.
Namun akhirnya, adalah kegigihan yang paling mengagumkan dari pria berperawakan kecil kelahiran Padang Panjang ini bagiku. Gigih untuk percaya bahwa kita mesti memenangkan kemerdekaan dengan cara-cara yang berkemanusiaan sebab dengan demikian maka kemerdekaan kita akan menjadi obor bagi bangsa dan dunia. Iya! Mari hidup kita menangkan dengan nurani dan akal sehat sehingga terang akan dapat penuhi takdirnya. Sebagaimana satu dari founding fathers bangsa ini telah berusaha menunjukkannya kepada kita.
'Dunia penuh dengan pertentangan, penuh dengan bahaya perjuangan, dunia gelap. Di Indonesia kita menyalakan obor kecil, obor kemanusiaan, obor akal yang sehat yang hendak menghilangkan suasana gelap...Marilah kita pelihara obor ini, supaya dapat menyala terus serta menjadi lebih terang. Mudah-mudahan ia akan merupaka permulaan terang di seluruh dunia.'
Pidato Perdana Menteri Sutan Sjahrir
(usai penandatanganan Perjanjian Linggarjati)
Jakarta, 25 Maret 1947
Sungguh. Jika India memiliki Mahatma Gandhi, maka di Indonesia dia adalah Bung Sjahrir, dan Linggarjati adalah bagian dari sejarah dimana manusia mencoba berdamai dengan sesama, bahkan penjajahnya. Sekaligus juga bagian dari suatu hari dalam perjalanan sejarah ketika kita tak hanya percaya hidup itu berharga, tetapi memperjuangkannya.

Di salah satu kamar Museum Linggarjati kita akan menemukan foto besar seorang pria bernama Jacobus (Koos) Johannes van Os. Museum pada mulanya adalah rumah keluarga yang dibangun Koos van Os pada tahun 1930. Anak-anaknya Dr. Willem van Os dan adiknya Joty ter Kulve-van Os dibesarkan di sini. Adalah mereka yang telah mengupayakan sejak 1980 agar rumah ini dapat dilindungi sebagai monumen sejarah dengan cita-cita semoga Spirit Linggarjati akan terus berlanjut kepada generasi muda (Monica Bouman: Return to Linggarjati**).
Jika kita bertanya tentang Spirit Linggarjati, maka bagiku dia juga adalah spirit Gunung Ciremai, spirit Bung Sjahrir, yakni kesediaan untuk saling mendengarkan, berdialog untuk menyelesaikan masalah.
The House got to be well known, because people thinking of the House were speaking of the Spirit of Linggajati. The spirit of Musyawarah, respect for each other, trying to listen and not only hear your own voice; to solve problems without reverting to the use of force.
Joty ter Kulve-van Os dan Willem A.A. van Os
The House**, 12 November 2008


Setelah keluarga van Os, rumah ini pernah dijadikan markas besar tentara Jepang, kemudian Belanda, dan Indonesia. Akhirnya adalah Maria Ulfah Santoso, Menteri Sosial pada masa Kabinet Sjahrir II (Maret-Oktober 1946) yang mendapat ide untuk menjadikan rumah ini sebagai tempat berlangsungnya perundingan Indonesia dan Belanda.
Setelah perundingan, rumah difungsikan sebagai sekolah. Hanya sebuah sekolah kecil, Sekolah Dasar Negeri Linggarjati, dengan murid-murid yang tak seberapa dan tak mampu membiayai pemeliharaan infrastrukturnya. Seiring dengan tahun-tahun yang berlalu, rumah pun tua dimakan usia, atap mulai bocor, di sana-sini cat mengelupas. Hingga suatu ketika di tahun 1985, sang rumah berhasil diperjuangkan untuk dikukuhkan sebagai cagar budaya dan mulai memiliki nama Gedung Perundingan Linggarjati. Gedung pun mulai direnovasi.
Sekarang kita bisa menikmati dengan nyaman rumah mungil di kaki Gunung Ciremai. Berbicara melalui foto, kursi-kursi, dan keberadaannya kepada kita. Tentang Bung Sjahrir dan satu momen dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Iya, ingin menjaga kita dari alpa bahwa pernah ada dalam sejarah bangsa sebuah momen ketika kita percaya ada juga alternatif diplomasi, sebuah jalan keluar yang damai, antara IndonesiaJakarta. dan Belanda. Tentang seorang Bung Sjahrir dalam sejarah kita. Atau apakah aku yang terlalu sensitif ketika menemukan tidak ada diorama Linggarjati dalam Museum Sejarah Nasional,

Referensi:
Toer, P.A., dkk., 1999. Kronik Revolusi Indonesia, Jilid II (1946). KPG, Jakarta
Toer, P.A., dkk., 2001. Kronik Revolusi Indonesia, Jilid III (1947). KPG, Jakarta
*http://www.setneg.go.id (lihat bagian Istana (Istana Negara))
**http://www.linggarjati.org


You Might Also Like :


0 komentar:

Poskan Komentar